Musim telah berganti menjadi gerimis lagi. Aku masih sempat mengeja keluh kesahmu yang pernah kau sandarkan di tempatku. Sebelumnya masih pula kurasakan bagaimana keindahan itu dipermainkan jerimarimu. Aku serupa bocah yang damai di ujung kerling matamu. Memainkan jeritan nakalmu yang senantiasa kau tebarkan. Lantas waktu membawamu pergi meninggalkan kemenangan yang memperkosamu.
Hari ini kau datang lagi. Bahkan usia tak lagi bisa kau maknai. Sambil membawa firman yang kau kutip dari sejarah berabad-abad lalu. Kau membantahku. Kutahu itu bukanlah dirimu. Tak ada lagi yang bisa kunikmati dari tarian syairmu. Seolah bergumul waktu menjadi panas, membakar kasih menjadi abu. Karena engkau telah bersahabat dengan keinginan. Bukankah aku telah mencarinya untukmu? Kau masih saja membantah.
Hari itu kau duduk di sampingku. Membawa senjata yang itu-itu saja. Seolah-olah dalam kemenangan kau bisa memenggalku. Aku bilang padamu, bagaimana mungkin kau mau memenggalku sementara kepalaku telah lama hilang? Dan kau tertawa serupa batu, cibiranmu berpangkal di ujung bumi dalam sosok mati. Aku merinding membayangkanmu, meski rindu semakin nyata di batas pandanganku.
Ah, aku semakin tak memahamimu bahkan aku tak mengerti keinginanmu yang berkumpul dengan buku-buku. Sampai di mana kamu sekarang? Apa masih kau tulis wahyu-wahyu yang kau ambil dari darah peradaban? Sungguh aku tak khawatir kehilangan dirimu karena engkau bukan apa-apa bagiku. Aku pandang matamu, masihkah sama engkau dengan yang dulu?
Hari ini kau datang lagi. Bahkan usia tak lagi bisa kau maknai. Sambil membawa firman yang kau kutip dari sejarah berabad-abad lalu. Kau membantahku. Kutahu itu bukanlah dirimu. Tak ada lagi yang bisa kunikmati dari tarian syairmu. Seolah bergumul waktu menjadi panas, membakar kasih menjadi abu. Karena engkau telah bersahabat dengan keinginan. Bukankah aku telah mencarinya untukmu? Kau masih saja membantah.
Hari itu kau duduk di sampingku. Membawa senjata yang itu-itu saja. Seolah-olah dalam kemenangan kau bisa memenggalku. Aku bilang padamu, bagaimana mungkin kau mau memenggalku sementara kepalaku telah lama hilang? Dan kau tertawa serupa batu, cibiranmu berpangkal di ujung bumi dalam sosok mati. Aku merinding membayangkanmu, meski rindu semakin nyata di batas pandanganku.
Ah, aku semakin tak memahamimu bahkan aku tak mengerti keinginanmu yang berkumpul dengan buku-buku. Sampai di mana kamu sekarang? Apa masih kau tulis wahyu-wahyu yang kau ambil dari darah peradaban? Sungguh aku tak khawatir kehilangan dirimu karena engkau bukan apa-apa bagiku. Aku pandang matamu, masihkah sama engkau dengan yang dulu?









0 komentar:
Posting Komentar