This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Article

Selasa, 26 April 2011

Egosentris - by: Noir Aya




Egosentris . . . .
Menyeruak bagai Luapan lahar panas
antara kau,aku
Membakar smw rasa
berubah mjd debu kesia-sia an
lalu mmbiarkan angin meniup nya
berlalu bgitu saja di langit kelam

Kau bertanya . . .
"Kmana Kau hrs pergi ...
Apa yg hrs Kau perbuat .. ????"

Diam sejenak Lelaki ku
Dan Rasa kan betapa angin kehancuran
berhembus pasti menyelimuti
Hati ku
menaburkan benih2 Luka
Kputus asaan mengakar di dasar nya
Menancapkan Duri2 kebencian

Bahkan sentuhan
Mata Sendu
Kehangatan Mu
tak mampu memadam kan Luka
yG slalu mjd penGuat Cinta utk Mu

Kini Luka itu tlah amat menggerogoti
Mimpi2 yg Ku rajut
bersama Malam ..

Ku lukis kan air mata ktulusan
yg mjd Doa tiap malam
kpd sang Pencipta
Agar Kau mmpu mlihat Cinta ku
Luntur sdh mjd uraian tinta buram yg
tak bermakna . . .

Lalu terlambatkah semua
Tentukan Akhirnya Lelaki ku.

Melati - by: Vii Mary Anne




Ketika cinta mengabarkan indah untaian kata.
Ketika cinta menyebarkan semerbak wanginya.
Seketika hati membisu tak kuasa menolaknya.

Seribu aksara takkan bisa menjelaskan.
Seribu bahasa takkan mampu mengartikan.
Seribu kenyataan takkan dapat membenarkan.
Dan seribu kesalahan tak pernah ada penistaan.

Tak ada atas tak ada bawah.
Tak ada benar tak ada salah.
Tak ada kanan tak ada kiri.
Tak ada caci tak ada benci.

Takkan pernah ada cinta berdiri di antara kebencian..
Walau terasa perih rasa cinta melukai sang majikan..
Takkan pernah berhenti cinta mengalirkan nadi ketulusan..
Menjadi bagian darahmu menyatu mengabadikan jalinan..

Harapan..
Keyakinan..
Pengertian..
Ketulusan..

Seuatu bagian dari cinta yang alami.
Terlahir dari rahim kesucian hati.
Yang tertiup roh keheningan alam misteri.
Lalu mejadi inang di setiap kesunyian hati.

Cintaku bersatu dengan cintamu.
Hatiku menyatu dengan hatimu.
Jiwaku tertaut dengan jiwamu.
Meski belum ragaku bersanding dengan ragamu..

Maafkan aku..
Kekasihku melatiku..

Kawan Pengganti - by: Indra Culay

Kuhembuskan nafasku dalam hidup
Indah kesunyian dalam mimpi
Diam ku seribu bahasa
Diam menyimpan dalam perih
Sesumbar ku katakan aku bisa hidup sendiri
Tanpamu kawanku.....

Namun dalam hati aku teriak
Teriak tiada henti
Menangis dalam kepedihan
Kesuyian yang selalu menemani
Dan selalu menghampiri
Selalu dan selalu.....

Hingga aku merasa lelah
Untuk melepaskannya dan meninggalkannya
Kapan kesunyian dan kehampaan ini pergi
Ku lepas dan ku tinggalkan

Kapan.....

Adakah secercah harapan
Menyelimuti diri dan merasuk ke hati
Adakah....
Dimana harus ku mencari?
Kawan pengganti seperti engkau.?

Karenamu - by Tiar Bff


Dari lubuk hati yang terdalam aku mencintaimu
Segala rasa ku kerahkan untuk kau bisa tau itu
Berdua kita terus bersama aku bahagia
Kasih tiada kau tau ku ingin dengan mu selamanya..
Kau datang sebagai pelengkap sebelah
Kau telah mengisi kosongnya setengah celah
Harapan ditengah saat ku tak bisa tegar
Tersadar jemuh hari karenamu semua terhindar.

Bukalah Pintu Maaf - by: Oh Lin





Bukalah pintu maaf untuk embunku
agar ku dapat mengusir kebekuan di kelopak-kelopakmu
menceritakan keindahan pagi yang dititipkan mentari
dalam bias cahayaku.

Bukalah pintu maaf untuk langitku
agar ku dapat menggiring awan untuk memayungimu
mengirimkan kedamaian yang dititipkan barisan merpati
dalam paruh nafasku.

Bukalah pintu maaf untuk senjaku
agar ku dapat hilangkan bimbang dan cemasmu
merias paras soremu lewat selendang jingga yang ditiup angin
memelukmu rapat hangat menghabiskan rasa ingin.

Bukalah pintu maaf untuk kelamku
agar tiada mimpi buruk hanya ada malam indah untukmu
menyalakan unggun membakar melupakan kenangan lara
menggantinya dengan bara cinta yang bergelora.

Bukalah pintu maaf untuk gerimisku
agar ku dapat menjadi airmatamu, menitikkan kasih di hatimu
menghapus goresan-goresan pedih di dinding hati
menggantinya dengan garis-garis pelangi.


Seutas Tali Pengikat Dusta- by: Seperti Mata Dewa


Menjulur panjang untaian kata,
melingkari manisnya rayuan yg buat aku terlena,.
Namun secara perlahan kau putuskan
benang rajutan Mu mnjadi kain yg robek riak,
yg tak seindah sperti uLasan hatiMu..

Harapan ku musnah sudah
brsama kata" dustaMu,
Kini hnya "Seutas Tali Pengikat Dusta"
yg kau tinggalkan utkku selamaNya,.

Biarlah ku jadikn cerita tentang Mu
bagai melodi yg indah,.
Semua dusta Mu tLah ku kubur dlam senyum tulus ku,.
yg trcipta
ttap akan ku jaga utk seLama" Nya..

DESAH BUAIAN SYAIR LUKA - by: Poetri Mistery


Terdengar bising suara rimba melintas imaji khayal
Ketika raga tengah menyandar berdiam pada gubug sepi
Angan terpasung berselimut helai kawat duri
Mengaduh sendu saat gurat girang tak lagi satu
Menolak mantra-mantra tawa sambil berlalu tanpa toleh

Rembulan masih sudi menikahi malam tanpa tabur gemintang
Kiranya langit mulai mengkerut bersiap lahirkan tetes-tetes mega
Lalu bathin memaksa ucap berkeluh dibangku taman kota tua
Memagut pilu diantara senyap lorong-lorong pekat
Terisak menyedu sedan menyeru tiupkan sangkala lara

Melantun lirih sapuan dermaga bayu menghembus bermunajat
Menjamu kesunyian menyuguh nampan secawan madu anggur busuk
Nurani kian tergaduh rintih pada mahkota istana keranda pesakitan
Berbungkus lembaran kafan beku bertemali selusin sembilu
Menjerit menghujam bertabur segenggam kamboja kepedihan

Paras tak lagi ranum bercorak sketsa gelap magenta
Memahat relung menjelma sederet barisan empedu sukma
Hancur rarai menjadi kepingan puzle tangis melukis sudut mata
Keriput,surut,menyulut muram rona masam wajah durjana
Layu terkatup membisu bersanding linang samudera air luka..

Satu Pertanyaan Saja - by: Noir Aya

Berhenti berkata "kita baik-baik aja"
Aku tau kita tidak dalam bayang kata itu...
Jarak yang ada mulai membuatku yakin

Haruskah ku cemas bila ada "Aku" yang Lain
di matamu
Atau berontak seolah Kau
milikku seorang
Apa ini gaya dari seorang pencuri
amatir ..

Kau tanya aku menGapa ...???
Bukan karena Ragu dalam menCinta
tapi Resiko itu terlalu
memihak padaku ..
mereka seakan mengikuti
tiap hembusan nafas ku ..

Kau yg tau,Lelaki ku ..???
Aku memiliki sejuta jawaban
Sediakan hanya SATU pertanyaan saja ..
yang mampu membuatku PERCAYA.

Yang Datang dan Pergi - by : Dellibelitelli Frincy 'Ntjoef'




Saat hujan meninggakan singgasananya.
Sambil melambai meninggalkan mereka.
Awan putih bermuram melepas pergi buah hatinya.
Langit biru yang senantiasa tersenyum berteriak
Meraung memekak telinga melihat kekasihnya pergi.
Mentari si pencinta
Yang dengan sabar menghangatkan bumi,
enggan menampakkan wajah ekspresi kecewa
teman dekatnya pergi.
Dedaunan bernyanyi,
pepohonan menari,
sungai tersenyum riang,
bumi sang bunda kehidupan
Merangkul hangat
Mendekap erat kedatangan sang hujan.
Sambil sesekalli terdengar syair atap
dan raungan petir mewarnai kedatangan hu jan.
Saat yang datang tersambut riang,
yang pergi tertangisi...

Sabtu, 23 April 2011

LADY HELENA- by: Ground Droung Aishiteru


Matanya tak lagi bercahaya seperti api matahari
Hanya menunduk pasrah bertahan memangku sepi
Menjuntai di bibir senja memandang kaki kaki langit
Entah apa yang dicarinya di antara bibir bibir karang yang terjepit

Bibirnya tak lagi merah seperti yang seharusnya
Tertimbun ribuan dera yang tak pernah ada habisnya
Tak hiraukan ombak yang datang menyapa sisi hatinya
Angannya seperti terbang bebas diantara kesunyian sebuah suara

Rambutnya tak lagi indah tergerai seperti dahulu
Jejak jejak lelah berurat abadi diantara ruas ruas pilu
Angin tak pernah mampu menggodanya untuk sekedar tersenyum tersipu
Sayap sayap patah begitu kentara memeluknya merapuh

Tubuhnya tak lagi wangi seperti layaknya seorang wanita
Tangannya terlalu sibuk menyeka jatuhnya derai airmata
Sayatan luka itu masih berlabuh pada penjuru hatinya
Menyulam kata kata kecewa karena sebuah cinta

Kegelapan malam perlahan melukis jagad raya
Bulan pun enggan menyalakan keindahannya
Namun dia masih lekat menjuntai disana… Memunguti serpihan hati
Kuharap waktu sudi menyembuhkan lukanya suatu hari nanti

p.s: thanks Wewe Aishiteru atas puisi indahnya ^_^

ODE TO HELENA -by: Ground Droung Aishiteru

UNTUKMU… BUNGAKU YANG RAPUH

Dimana kan kucari deru nafasmu
Sedang engkau disana hanya terdiam membisu
Adakah sebait  kata kata indahku
Mampu membangunkanmu dari tidur panjangmu

Dimana kan kucari teduh wajahmu
Sedang engkau disana hanya tertunduk selalu
Adakah sebuah cahayaku yang bisa membuatmu tersipu
Seperti aku melihatmu dalam mimpiku

Dimana kan kucari damai senyumanmu
Sedang bibir tipismu terkunci rapat selalu
Adakah seulas sapa ikhlasku sembuhkan lukamu
Membuatmu lugas seperti dirimu yang dahulu

Dimana kan kucari anggun cintamu
Sedang engkau disana selalu menutup rapat hatimu
Adakah sekeping rinduku mampu membuatmu kembali hidup
Seperti sebuah nama yang kukenang selalu

Aku ingin menjamah duniamu dengan rasaku
Memandangi keindahannya dengan rasaku
Membuka tabir tabir misterinya dengan rasaku
Memberi arti damainya dengan rasaku

…. Bukalah hatimu…. Bukalah sedikit untukku…….


PEREMPUAN BERKALUNG AIR MATA

Ditemani sepasang sayap putih bidadari
Pergi mengitari atap dunia yang sunyi
Mencari sebuah hati yang tengah bersedih
Untuk kubasuh dengan alunan nada nada kasih

Dan kutemukan dirimu di sudut sebuah pintu rapuh
Sedang mengetuk perlahan sebuah kisah pilu
Air mata seakan penamu yang lugas bercerita
Tentang sebuah hati yang ditinggalkan cahayanya

Duhai rembi… cepatlah kemasi palung palung mimpi
Jangan biarkan nafasmu berlama lama menari
Menabuh simphoni yang sanggup mengiris hati
Membiarkan sebuah hati terpuruk layu sendiri

Duhai pelangi… berilah hatinya sebuah warna
Biarkan mata hatinya sejenak berkaca
Karena sekeping cinta telah membuatnya begitu buta
Tak sanggup lagi melihat keindahan dunia disekitarnya

Duhai perempuan berkalung air mata
Tinggalkan saja semua kenangan yang menyiksa
Karena engkau layak mendapatkan yang lebih baik daripadanya
Mendapatkan sisi bahagiamu seperti dahulu kala



sebelum diriku terpenjara sepi

Disini... Aku berdiri diantara keheningan kita
Dan hela nafaspun begitu nyaring terbaca telinga
Andai saja ada sebuah pilihan lain yang bisa kugenggam selamanya
Aku ingin selalu bersamamu melafazkan sebuah cerita bahagia

Disini... diantara derai air matamu yang bermuara dihati
Saat kenyataan sudah tak lagi sudi hadir melukis indahnya hari
Titik titik harapan semakin membawamu jauh dari pandangan
Detik detik waktu yang bergulir pun mulai mengais kata perpisahan

Peluk erat diriku hingga pesawat itu terbang membawamu pergi
Meninggalkan cinta kita yang hangatnya masih penuhi palung hati
Akankah semua akan sama rasanya saat engkau tak tergapai hela nafasku lagi
Akankah aku sanggup menyebut namamu dibalik kesepianku yang semakin membelenggu diri

Izinkan hatiku melukis semua mimpi dengan kisahmu
Bunga bunga rindu yang beri aku kekuatan untuk terus tumbuh
Meski kutahu tak akan mudah kuhela sisi hatiku yang kehilanganmu
Disini.... aku menanti saat saat engkau kembali mencuri hatiku

Dan disuatu masa...... jauh dari pandangan matahari hari ini
Aku akan mencari jalan untuk menemukan dirimu kembali
Dan di suatu tempat... diantara rinai keheningan malam yang menari
Aku akan meninggalkan sebuah cahaya yang menuntun langkahmu kembali di hati

.... sebelum diriku terpenjara sepi............

LADY RAIN

Ada masanya ketika langit tak mendengar
Bumi pun terdiam dari riuhnya hingar bingar
Ketika diujung jendela cahaya kupaparkan sebuah renjana
Menggenggam serpihan rasa yang semakin kentara pudarnya

Ada apa dengan suara hatiku setelah semua kata manis itu berlalu
Mengapa kini selalu saja biasnya berwarna pekat semakin kelabu
Ujung jemari semakin lama semakin lemah beranjak merapuh
Tak mampu lagi menopang hasrat semua mimpi mimpiku

Mengapa harus ada pertengkaran yang tidak perlu
Mengapa semua niat baikku selalu terlihat salah dalam hatimu
Apakah ini yang engkau agungkan soal cinta
Mengapa yang kurasa hanya pedih menggores jiwa

Mengapa harus ada mata yang merah menyala
Membakar semua bingkai bingkai rasa yang telah terbina
Kemana pergi teduh yang selalu kusuka dari dirimu
Mengapa kini tak terlihat bersinar pada indahmu

Sekarang aku hanya bisa terdiam
Menanti bara di dadamu yang tak kunjung padam
Sementara beribu kata tanya mengapa singgah di otakku
Ketika semua penjelasanku bertemu dinding yang membatu

Kenyataan ini membuat airmataku hijrah mengalir di sudut sudut hati
Guruh pun lantang terdengar memecah kegelapan langit malam yang terasa sunyi
Dapatkah aku tenang terlelap menutup perlahan kedua bola mataku
Bila dirasaku kini selalu terbayang akan pahitnya perpisahan itu

Suara suara kegelapan datang menari di otakku
Seakan berbisik hendak memerah panggil namaku
Lama kuterdiam memeluk erat kedua lututku
Sebuah hati berharap engkau tak pernah jauh

Duhai bidadari yang menari dalam rinai hujan
Sentuhlah wajahku dengan kekuatan sebuah kelembutan
Agar cahaya itu tak akan pernah menghilang
Memeluk tubuhku dalam indahnya kedamaian

Duhai bidadari yang menari dalam rinai hujan
Beri ragaku sebuah nafas kehidupan
Agar kumampu nikmati lagi kehadirannya
Saat mentari datang untuk menyapa

ODE TO HELENA

Duduk sini Helena… dan ceritakan padaku mengapa termenung menyendiri berlama lama
Kutahu engkau tengah menikmati bait bait irama luka karena tertusuk racun sebuah asmara
Menggenggam erat airmatamu yang tersimpan dalam ruang ruang kecil di dada
Melumuri hari harimu dengan pekatnya debu debu sesal dan kecupan kecupan kecewa

Tak apa Helena… it’s okay…. Dirimu masihlah seorang manusia biasa yang memiliki hati dan rasa
Tak akan luput nafasmu dari sebuah jejak langkah yang tak sempurna dan gelapnya sebuah dunia
Nikmati saja kehadirannya dengan tenang sebagai sebuah fase dalam kehidupanmu
Hingga ketika mentari esok pagi menyapa, dirimu bisa lebih tegar berdiri diatas kedua kakimu

Menangislah Helena… sini, menangislah puas puas di dadaku bila itu bisa sedikit melegakan hatimu
Lepaskan saja semua beban beban pilu yang selama ini mengganjal dan membelenggu bahagiamu
Bila perlu… lampiaskan saja semua dendammu kepadaku… cacilah !!!… pukullah !!!… tendanglah !!!!….Hingga semua tubuhku lebam membiru…. Kuras habis semua serpihan serpihan kelabu
Kemarilah… biar kupeluk cahayamu yang letih dengan kasih sayang terbaik dariku untuk dirimu

Berikan bibirmu kepadaku Helena… yups… bibir yang selama ini membeku dalam sempurnanya diammu
Biar kucoba melukis seulas senyum terindah yang dahulu pernah terhampar menghiasi untaian harimu
Biar kutuntun lidahmu agar kembali lembut mengucap sepatah dua patah salam tulus menyapa kehidupan di dunia
Belajar tuk temukan lagi syair kedamaian dalam tutur bahasa santunnya sebuah jiwa

Letakkan hatimu yang terkoyak di nafasku Helena… yups… selembar hatimu yang penuh dengan tusukan belati
Biar kucoba mengobatinya dengan cahaya ramah yang menghidupkan sebuah hati
Membasuhnya dengan kehangatan mentari yang terpancar dari tangan tangan bijaksana
Memberinya sebuah sentuhan rasa agar kembali terisi kisah indah penuh pesona

Duduk sini Helena…. Duduklah dekat dekat denganku yang kan selalu hadir tuk melindungi
Memberi warna kepak kepak sayapmu agar kembali terbang ke langit yang tinggi
Menjaga hatimu dengan sebentuk kisah kehidupan yang mengalir memberi makna
Menggenggam bahagiamu dalam sebuah partitur yang bernama c-i-n-t-a

Aku Kenal Ia Untuk Hari Ini Saja - by: Aerina Dwaanq

rasa takut itu kembali menang..
sosok seperti momok yang tidak mampu untukku melihatnya
terbayang-bayang
sedang berlari-lari dibenakku..
kegelapan segera menghantui
turut menghujam rasa ku itu..
rasa dimana aku tak tau
apakah ada orang yang memilikinya
ataukah tidak..

satu pergi dan hilang meninggalkan ku...
aku ketakutan
bila nanti perpisahan itu segera datang jua...
bagaimana akan ku??
akan perasaan ku yang pasti akan sangat rapuh itu??!!

aku mencoba untuk menganggap ini biasa,,
sebuah pertemuan yang tidak akan berguna untukku kedepannya...
aku kenal ia untuk hari ini saja..
dalam waktu sesaat saja..
entah benar aku sanggup jauh darinya bila nanti hari esok itu tiba
ataukah tidak...

aku ingin tertawa bila nanti itu tiba
tangisku hanya akan membuad ia besar kepala.

namun rasanya aku tidak bisa
perasaan anjing itu pasti yang akan menang nantinya

bimbing aku ya Tuhan
menghadapi perasaan yang akan mencoba mengelabuiku itu

Mungkinkah . . . ????? - by: Noir Aya

MaTa ku tak meliHat wajah mu ...
TelinGaku tak mendenGar suaramu ..
Malam ini ..
Gejolak Rindu ku baGai deburan ombak ..

Ingin meronta namun krn apa ...???
Ingin menangis tp siapa aku ...???

Terdiam ku dlm asa ku ..
Merintih jiwa brsama dingin ny angin malam ..
Aku RinDu ..
Dengar kan Jeritan Hati yg tak
mw berHenti meRinDu ini . . . 
Lelaki ku ..
Aku sangat Rindu ..
Lihat aku & kaTakan
Kau jG meRindukan Ku .. 
Mungkinkah . . . ?????

Kelak Kusemai - by: Dellibelitelli Frincy 'Ntjoef'




kusemai
benih cinta diladang kasih putih
bersriramkan rindu menggebu
sambil tersapu sinar mentari keemasan
gulma cemburu
tercerabut bersama dangkalnya syak wasangka
dan curiga tak berdasar
kelak kusemai
indahnya cinta
lewat jemarimu yang lentik
membelaiku dengan senyuman.


Ingin Ku Tutup Cerita- by: Dena Suradirdja

Aku ingin waktu ku segera tiba ..
lelah aku hadapi semua jalan cerita ku
rapuh yg kini semakin bersahabat dengan ku
enggan beranjak meninggalkan ku
duka ku semakin dalam ketika kau goreskan secarik luka dihati ku

Ingin ku tutup cerita dan berlalu dari hidup
tapi Tuhan belum mau

Kamis, 21 April 2011

Entahlah - by: Aaf Ratmawan

entahlah..
berapakali harus kuyakinkan
dirimu
bahwa rindu yang mengalir
dalam darahku adalah
rindumu
mungkinkah..
kau dengar
ceritayang tergelar lewat
bisunya malam
itu cerita cinta
tentang kau dan aku
kau tahu
purnama ini begitu indah
walau tak seindah senyummu
yang terakhir kali
masih kuingat
kasih..
aku lihat senyummu
diantara bintang dan bulan
purnama
aku dengar suaramu
lewathembusan angin dan
gesekan daun-daun
tapi rinduku belum juga
terobati
kasih..
apakah hari ini kau simpan
rindu
seperti rindu yang
menggunung di hatiku..?
ah..
bila saja mungkin
ingin kulihat cinta di matamu
sekali lagi..

Sembilu Rindu - by: Poetri Mistery feat. Egidia Zulka


Egidia:
Malam begitu pekat merongrong
Menghentak kerinduan
Menjelaga pada pusaran angan
Tapi bibir terkatup bisu
Rasa begitu berkecamuk dalam nurani hati
Seakan mengajakku berdebat
Seperti gunung-gunung yang siap meletupkan laharnya
Terhenyak aku dalam rindu ini
Gali dan kais
Dan temukan keindahan yang tak berdebu
Peluk rindu malam heningku

Poetri:
Dan serigala binal meraung di jelaga sumur tua
Bersolek riang didepan cermin lelumutan
Mendekam pada tabung-tabung cendawan
Seolah tertawa menyeru gugusan kemukus tiram
Menjala puing-puing gersang wajah ilalang
Terjerat sebilah rindu pada penjara kepedihan
Ketika terlaun gemericik lirih suara airmata
Rindu tetap tak ingin keluar dari persembunyian penat
Masih menanti diujung setapak pusara
Bergulat dewadaru dibatas sulaman gerhana

Egidia:
Belati mengoyak, mencabik, menusuk rindu
Tapi rindu tetaplah rindu bersekutu dengan waktu
Melesat bagai terlepas dari busurnya denyutkan nadi jantung
Nafas menari dengan hujan memasung rindu
Mengubur dalam gelisah belantara sunyi, terkapar...
Jiwaku mati menadah peluh yang luruh di dada
Saat kelam menjadi pekat

Poetri:
Wanginya menebar berselimut permadani biru
Aroma tak tertuai meski terkubur nisan menua
Gemuruhnya tetap bersyair tak melemah
Meski memeras daya berpeluh mengaduh
Merana berbingkai sembilu, rarai dan berkeping
Walau menari berhias gemulai selendang pilu
Rasa itu tetap bertahta mahkota rindu
Abadi hingga tutup putaran waktu..


Hingga Mataku Terpejam- by: Amin Aja




Senja tlah tiba
Memancarkan Hias Sinar jingga
Duduk termenung
Diantara rimbun taman bunga
Ku petik Setangkai
Ku Selipkan di daun telinga
Och harumnya bunga nan Cantik

Sekilas anganku terbang melayang
Oleh satu masa indah bersama dulu

Masih kah kau ingat
Janji tuk Memberi ku Anggrek
Hingga Sekarang masih ku tunggu

Datang lah kasih
Bersama jnjimu di masa lalu
Akan Slalu Harum rindu mu
Setia Hingga mataku terpejam.

BAYANGANMU MEMUDAR DIBALIK RINAI HUJAN - by: Penghuni Bumi

Sudah lama, aku menyulam khayalan pada tirai hujan
menata wajahmu disana serupa puzzle,
sekeping demi sekeping, dengan perekat harapan di tiap sisinya
lalu saat semuanya menjelma sempurna
kubingkai lukisan parasmu itu dalam setiap leleh rindu
yang kupelihara di sudut hati dengan rasa masygul
dari musim ke musim

“Kekasihku selalu memendam rahasia dan misterinya sendiri,
pada langit, pada hujan,” bisik lirih angin terbata-bata.
Dan seketika, linangan air mata hujan menjelma
bagai deras aliran sungai yang menghanyutkanku jauh ke hulu
dimana setiap harapan kita karam disana
Sudah lama, aku memindai sosokmu pada derai gerimis
memastikan setiap serpih mimpiku untuk bersama
membangun surga di ranah jelita dapat menjadi nyata
tapi selalu, semuanya segera berlalu
dan sirna bersama desir angin di beranda
“Percayalah, engkau ada dinadiku dan cintaku padamu ada didarahku,
” hatiku berbisik pelan ketika bayangmu, perlahan memudar dibalik rinai hujan…

Cintamu Sakitiku - by: Aulia Salsabila

Cintamu telah menyakiti ku
hingga ku terpaku
terdiam 
tak kuasa membenci 
tak kuasa lagi mencintai

manis cuma dalam kata
hancur dalam nyatanya
ingin ku tertawa 
melihat kau terjatuh 
tapi ku cuma mampu tersenyum
tawaku tiada suara
langkah kakiku makin pasti 
menjauh meninggalkanmu 
membawa luka beracun 
yang kau goreskan dalam hatiku

Hey Stranger - by: Usman Siddiq

Hey stranger, you're calling out from somewhere too.
I'm living here in pieces --
somewhere you're living in pieces, too
Each day, as it comes and goes, the silken wind says, "Tell me!"
The silken wind says, "Tell me!"
The one who is like a pale, innocent flower bud --
that girl, where, where is she?
Where is her light? The one who is my very life - where is she?
I am incomplete, and you're only half-alive.
Hey stranger, you're calling out from somewhere too.
I'm living here in pieces -
somewhere you're living in pieces, too
You're not here, but your smile is.
Your face is nowhere to be found, but the sound of your footsteps are.
Where are you, where?
Where is there a sign of you,
I'm incomplete, and you're only half-alive.
Hey stranger, you're calling out from somewhere too.
I'm living here in pieces -- 
somewhere you're living in pieces, too~


Senin, 18 April 2011

untuk takdir yang tak mampu ku genggam - by : Ranting Sepi




diriku tak pernah tahu
apakah mata ini pada esok fajar
masih dapat terbuka menapaki
hari ceria

pun tak akan pernah tahu
apakah malam ini
malam terakhir saksikan langit
rembulan dan pendar gemintang
di penghujung

sebelum bibir ini
benar-benar beku membisu
sebelum mata ini
tak menyaksi lagi

dan sebelum jiwa
lepas tak menggenggam

cukup satu kalimat
yang mungkin basi terdengar
namun tulus terlantun

: "aku mencintaimu."

Menanya Altar Yang Terabai- by: Ranting Sepi




o, peluh dirimu gadis melambai
menanam kasturi dalam hati
berteman embun pada ujung
dagu
memeluk impi
menghitung curah hujan tarian
mutiara langit

lagi-lagi engkau mendekam
terhimpit tanya
nan mampu ditawar
pada siapa gadis?
engkau menaruh harap

sedang adanya mereka
telah melipit hati
gakari yang terabai

sampai akhir tertutup lembaran
takdir

sudah ku belai kabut putih, hingga
gigil peluhmu gemertak henti
tatapan sayu menikam ruang
diantara petak menyambung
pijak tak tak para ubin menyiksa
lalu, hanya tersisa bibir mungil
terbata kata

dan anginpun menangis, langit
gerimis rintik merimis

selayang dalam pandang mulai
meredup, namun dalam laun
tetap merapal harap,

"bukankah hidup kita harus
bahagia?"

menyata jawab hanyalah entah,
bahkan Tuhanpun hanya mampu
diam

hingga terpejam dua retina
dalam pekat abadi, pada
heningnya altar yang terabai

Rapae Dalam Lelapku- by : Ranting Sepi





dalam hunian mimpi ada
secercah bayang yang menyemai
di antara ribuan rupa yang
menapa tak melupa, aku terjaga
seorang diri. tanpa tahu siapa dan
apa?

saat mengata kenapa?, mereka
berpergi tanpa menapak irama.
seperti diri ku yang tak pernah
menahu.

dalam hunian mimpi ada
secercah bayang yang menyemai
di antara ribuan rupa yang
menapa tak melupa, namun ada
najam-najam letik yang berkilau
pijar membuka labirin mimpi
hingga diriku mampu melangkah
terjaga sempurna. aku masih
hidup.

lalu ku tatap cermin yang
melengkung di antara dinding-
dinding kamar, ternyata tertinggal
sayap rapae di punggung. dan
pijar rapae-rapae kecil yang
masih berkilau namun mulai
memudar mengiringi dentingan
waktu.

: itu
tentang rapae
yang hadir menutup mimpi
bangunkan tidur lelap ku

Rembulan - by: Cermin Mysterius




Dan teringat pada Rembulan.
Aku tidak tau keadaan sinarmu malam ini,
sama kah disana?
Diantara berlapis-lapis rindu langit,
berharap sinar rembulan selalu bersinar,
walaupun kadang mendung hadir.
Diantara berbait-bait doa hati,
berharap rembulan tak kedinginan,
saat salju turun menggigil.
Dan semoga kehangatan mentari
selalu hadir menemanimu setiap hari.

: untuk rembulanku.

PS: entahlah.. aku sangat menyukai puisimu yang ini Myst ^_^