Kamis, 21 April 2011
Cintamu Sakitiku - by: Aulia Salsabila
Cintamu telah menyakiti ku
hingga ku terpaku
terdiam
tak kuasa membenci
tak kuasa lagi mencintai
manis cuma dalam kata
hancur dalam nyatanya
ingin ku tertawa
melihat kau terjatuh
tapi ku cuma mampu tersenyum
tawaku tiada suara
langkah kakiku makin pasti
menjauh meninggalkanmu
membawa luka beracun
yang kau goreskan dalam hatiku
Hey Stranger - by: Usman Siddiq
Hey stranger, you're calling out from somewhere too.
I'm living here in pieces --
somewhere you're living in pieces, too
Each day, as it comes and goes, the silken wind says, "Tell me!"
The silken wind says, "Tell me!"
The one who is like a pale, innocent flower bud --
that girl, where, where is she?
Where is her light? The one who is my very life - where is she?
I am incomplete, and you're only half-alive.
Hey stranger, you're calling out from somewhere too.
I'm living here in pieces -
somewhere you're living in pieces, too
You're not here, but your smile is.
Your face is nowhere to be found, but the sound of your footsteps are.
Where are you, where?
Where is there a sign of you,
I'm incomplete, and you're only half-alive.
Hey stranger, you're calling out from somewhere too.
I'm living here in pieces --
somewhere you're living in pieces, too~
I'm living here in pieces --
somewhere you're living in pieces, too
Each day, as it comes and goes, the silken wind says, "Tell me!"
The silken wind says, "Tell me!"
The one who is like a pale, innocent flower bud --
that girl, where, where is she?
Where is her light? The one who is my very life - where is she?
I am incomplete, and you're only half-alive.
Hey stranger, you're calling out from somewhere too.
I'm living here in pieces -
somewhere you're living in pieces, too
You're not here, but your smile is.
Your face is nowhere to be found, but the sound of your footsteps are.
Where are you, where?
Where is there a sign of you,
I'm incomplete, and you're only half-alive.
Hey stranger, you're calling out from somewhere too.
I'm living here in pieces --
somewhere you're living in pieces, too~
Senin, 18 April 2011
untuk takdir yang tak mampu ku genggam - by : Ranting Sepi
diriku tak pernah tahu
apakah mata ini pada esok fajar
masih dapat terbuka menapaki
hari ceria
pun tak akan pernah tahu
apakah malam ini
malam terakhir saksikan langit
rembulan dan pendar gemintang
di penghujung
sebelum bibir ini
benar-benar beku membisu
sebelum mata ini
tak menyaksi lagi
dan sebelum jiwa
lepas tak menggenggam
cukup satu kalimat
yang mungkin basi terdengar
namun tulus terlantun
: "aku mencintaimu."
Menanya Altar Yang Terabai- by: Ranting Sepi
o, peluh dirimu gadis melambai
menanam kasturi dalam hati
berteman embun pada ujung
dagu
memeluk impi
menghitung curah hujan tarian
mutiara langit
lagi-lagi engkau mendekam
terhimpit tanya
nan mampu ditawar
pada siapa gadis?
engkau menaruh harap
sedang adanya mereka
telah melipit hati
gakari yang terabai
sampai akhir tertutup lembaran
takdir
sudah ku belai kabut putih, hingga
gigil peluhmu gemertak henti
tatapan sayu menikam ruang
diantara petak menyambung
pijak tak tak para ubin menyiksa
lalu, hanya tersisa bibir mungil
terbata kata
dan anginpun menangis, langit
gerimis rintik merimis
selayang dalam pandang mulai
meredup, namun dalam laun
tetap merapal harap,
"bukankah hidup kita harus
bahagia?"
menyata jawab hanyalah entah,
bahkan Tuhanpun hanya mampu
diam
hingga terpejam dua retina
dalam pekat abadi, pada
heningnya altar yang terabai
Rapae Dalam Lelapku- by : Ranting Sepi
dalam hunian mimpi ada
secercah bayang yang menyemai
di antara ribuan rupa yang
menapa tak melupa, aku terjaga
seorang diri. tanpa tahu siapa dan
apa?
saat mengata kenapa?, mereka
berpergi tanpa menapak irama.
seperti diri ku yang tak pernah
menahu.
dalam hunian mimpi ada
secercah bayang yang menyemai
di antara ribuan rupa yang
menapa tak melupa, namun ada
najam-najam letik yang berkilau
pijar membuka labirin mimpi
hingga diriku mampu melangkah
terjaga sempurna. aku masih
hidup.
lalu ku tatap cermin yang
melengkung di antara dinding-
dinding kamar, ternyata tertinggal
sayap rapae di punggung. dan
pijar rapae-rapae kecil yang
masih berkilau namun mulai
memudar mengiringi dentingan
waktu.
: itu
tentang rapae
yang hadir menutup mimpi
bangunkan tidur lelap ku

















