Article

Minggu, 08 Januari 2012

Nockturno Ungu




   Aku sudah tak mampu lagi menahannya. Saat kebimbangan ini begitu menghantamku, merusak sendisendi ketegaranku. Yang ku tau, aku hanya begitu mencintainya. Sangat mencintainya bahkan mungkin melebihi diriku sendiri, lebih dari yg dia tau. Tapi rasa ini begitu mebahagiakan, begitu cepat datang seperti tibatiba ada kekuatan baru yg mencerahkan harihariku yg pernah kian meredup.

   Dia begitu menerima, begitu tanpa masalah, dan begitu tenang. Sangat tenang hingga seolah aku tak pernah diijinkan tau apa yg sebenarnya dia rasakan. Apakah dia bahagia saat denganku ataukah tidak.

   Hatiku pun seolah menerka-nerka sendiri akan keinginannya. Lalu sampailah pada aku yg tengah bercermin , melihat pantulanku sendiri yg sangat jauh dr sempurna.
Berkali-kali aku ingin mundur dan menyerah menjalani ini. Bukan karna aku tidak mencintainya atau dia tidak pantas untukku. Tapi kali ini tentang aku, aku yg sangat tidak pantas untuknya. Aku hanya ingin melihatnya benarbenar tersenyum dan berkata pada dunia dengan bangga, "inilah kekasihku !" , meskipun bukanlah aku yg ada disampingnya saat itu.

   Aku pergi tapi tidak meninggalkannya. " kamu.. kamu masih boleh datang padaku kapanpun kamu mau saat kamu tibatiba membutuhkanku.."
Aku masih orang yg sama, perempuan yg sama. Sendiri dan selalu mencintainya. Andai saja dia tau dialah alasanku sering terjaga sepanjang malam, dialah jawaban saat puluhan orang bertanya, "kamu habis sakit..?"
Dia pula alasan mataku sering terlihat cekung dan sembab. Aku sedih  bukan karena tersiksa olehnya, tapi tersiksa olehku sendiri yg tidak mampu mendatangkan bahagia dalam hidupnya seperti yg telah dia lakukan pada hidupku.
Aku ingin menjauh darinya agar dia mendapatkan yg lebih baik untuknya. Tapi kenapa saat niat ini terbersit sedikit saja membuat dadaku terasa sangat nyeri.

   "Aku bahagia karena aku mencintaimu, hingga kamu pun pasti bisa melihat jelas binar mataku saat aku menceritakan kisah kita, pada sahabat atau ibuku sendiri."
Aku bisa saja menyembunyikan airmata yg sering tibatiba menetes, lewat hujan atau air yg membasuh wajahku. Karena tak ada seorangpun yg mampu membedakan airmata dengan keduanya. Tapi tetap saja aku tidak bisa menyembunyikan kebimbanganku. Terutama saat aku sering tidak fokus pd pekerjaan hingga menyebabkan kejengkelan beberapa orang. Dan taukah kamu saat aku sering melakukan kesalahan dalam hal ini, aku tersadar, aku merasa begitu jatuh. Aku tak menyangka kacau fikiranku tentang kamu begitu menghancurkan kehidupan normalku.

   Tangiskupun pecah saat engkau berkalikali mengumpatkan kebencianmu pada sosok sang mantan. Sosok yg pernah membuatmu begitu hancur hingga berkeping. Aku cemburu dengan itu semua, karena saat kau begitu besar membenci orang yg telah menjadi mantan, maka sebesar itulah kau pernah mencintainya.
Bisakah kau mencintaiku sebesar itu?
Pertanyaan yg egois..

   Aku telah lelah dengan katakata, dengan perasaan, airmata dan diriku sendiri.
Sekarang jawablah aku Tuhan..
Kenapa Engkau ciptakan airmata dan hati yg sangat melemahkanku ini? karena sedikitpun aku tidak ingin memiliki keduanya lagi...

0 komentar:

Posting Komentar